Wednesday, January 22, 2014

Grow.



Tiba-tiba saya menemukan sebuah buku tulis yang baru terisi satu lembar. Sesaat kemudian mulai tersenyum-senyum sendiri saat menelusuri kata demi kata yang tertera. Terkadang ada perasaan geli dengan diri di masa lalu. Haha. Kenangan mengantarkan sebuah proses kedewasaan dalam pola berpikir dan bertindak di masa sekarang. Saya harus benar-benar berterimakasih atas perjuangan-perjuangan saya dahulu yang telah berusaha dengan kerasnya dalam mengantarkan diri menjadi seperti sekarang.

Juli, 2013.

Bahkan saya sudah menulis tentang rengekan patah hati di lembar pertama dalam sebuah buku yang seharusnya saya jadikan ‘diary’.

Motif awal membuat buku diary lagi ?
    Mungkin.. karena dulu itu tumbuh rasa keinginan untuk nyamain kelakuan si Shone di film ‘A Crazy Little Thing Called Love’. Diawal saya menuliskan, “pengen kaya si P'shone yang menuliskan fase-fase perasaannya kepada si Nam lalu di dokumentasikan”. 

Sunday, January 19, 2014

?? - part 2



Di suatu malam, saya kembali mengetikkan beberapa kalimat. Tapi beberapa menit setelahnya saya mulai menekan tombol [x] di ujung kanan atas. Ketika ia bertanya apakah saya ingin menyimpan tulisan tersebut atau tidak, saya pun mulai menekan tulisan “No” . Kejadian seperti ini bukan pertama kalinya terjadi. Akhir-akhir ini saya memang terlampau sering mengalami hal seperti ini. Diakhir, saya akan tersenyum kecut ke arah layar, dan ya.. terimakasih karena sudah mencoba menghabiskan waktu saya.
Apakah wajar jika seseorang mulai kehilangan inspirasinya untuk menulis ? Padahal ada begitu banyak hal yang ingin saya tuliskan. Namun ketika mulai menatap layar, pikiran saya mulai mengosong dan semua kata terasa ambigu.

Saya tahu, ada yang salah dalam diri saya sekarang.

Sunday, December 8, 2013

Dinner Pusman UGM


Bismillahhirrahmannirrahiim -

Karena, bisa bertemu dan berkumpul dengan mereka yang mempunyai impian sama denganmu sangatlah menyenangkan. Tidak  ada kalimat untuk saling meragukan impian yang tertera, bahkan tercipta kalimat tentang kuat nya rasa percaya akan masing-masing dari kita yang mampu untuk menggapainya. Karena melangkah bersama akan terasa lebih ringan dibanding harus melangkah sendirian. Walau pada akhirnya nanti harus berpisah, namun satu yang akan teringat, bahwa disana masih ada mereka yang sedang mewujudkan mimpi yang sama seperti saya.

..
..

Seminggu yang lalu, 1 Desember 2013, saya mendapatkan pengalaman super menyenangkan bersama teman-teman keluarga di PUSMAN.

Saya merasa benar-benar menjadi diri saya sendiri ketika bersama mereka. Bersama mereka, saya tidak merasakan rasa takut seperti yang biasa saya rasakan jika bersebelahan dengan laki-laki lainnya. Karena mereka sudah benar-benar menjadi seperti keluarga bagi saya. Bahkan saking saya merasakan rasa nyaman ketika berada di dekat mereka, saya rasa perasaan cinta itu tidak akan muncul. Karena ada yang lebih dari cinta, yaitu perasaan sayang seakan kami benar-benar terikat oleh hubungan darah.

Saya tertawa. Tersenyum. Bertingkah kekanak-kanakan. Ngambek. Kadang terlihat egois. Kasar. Lemah. Semua terjadi begitu saja ketika berada di dekat mereka. Tidak ada perasaan lelah karena harus berpura-pura untuk bersikap baik.

Bersama mereka, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga. Karena tak sedikit dari mereka adalah orang-orang yang telah sukses di bidangnya. Seperti mas Bagus yang seorang seniman, yang karya lukisannya dihargai sebesar 30juta, yang telah sering berangkat keluar negri tanpa harus mengeluarkan uang sendiri. Ada yang telah bekerja di perusahaan Jerman dan akan berangkat kesana tahun depan. Mereka semua tak hemat kata dalam membagi pengalaman-pengalaman dan nasihat-nasihat untuk mendorong kami yang belum seperti mereka untuk segera menyusul agar bisa jadi seperti mereka, atau bahkan lebih.

Dan saya kaget ketika mengetahui fakta bahwa Bimo, Bobi, dan Wawan masih mahasiswa angkatan 2013 ?! Lalu si Dimas yang ternyata juga baru angkatan 2012.  Saya dan Riska masih berada di tengah-tengah, yaitu angkatan 2011. Sedangkan Mas Ido, mas Hari dan Mba Erni adalah angkatan 2010. Mas Irvand angkatan 2009. Mas Fachmie yang sepertinya angkatan 2008. Mba Indri angkatan 2007. Mas Edo angkatan 2006.  Dan Mas Bagus yang…. Entah angkatan berapa ya kira-kira (.__.) ?

Karena hal tersebut, saya suka sekali mengatakan kepada Bimo, Bobi, Wawan dan Dimas, “Wah berarti kalian harus manggil aku dengan ‘mba’ dooong”. Dan tanpa bisa saya prediksi ternyata..… Bimo dan Bobi benar-benar melakukannya. JLEB. Tiba-tiba saya merasa menjadi sangat tua ketika dipanggil 'mba' oleh mereka. 

Oke.
Lanjut.

Jadi, sebelum berangkat ke tempat Mas Bagus, selaku yang mentraktir kami makan di rumah beliau, saya dan teman-teman sepakat untuk berkumpul terlebih dahulu di depan PUSMAN jam 5 sore. Tapi karena si Bobi dan Bimo datangnya telat, akhirnya kami baru bisa berangkat setelah maghrib dengan menggunakan mobil mas Edo. Dan saya baru tau kalau mas Edo ternyata alumni UII. Karena sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa UGM, saya sempat mengira bahwa mas Edo termasuk di dalamnya.

Di dalam mobil kami berbicara mengenai banyak hal. Hal paling menggelikan adalah saat Bobi bertanya pada Bimo, “ Bim, lu bawa rantang gak ? “ . Hahaha, si Bobi emang yang paling excited terhadap dinner malam itu, bahkan dia terus mengirim sms ke mas Bagus untuk menanyakan apakah makanan sudah siap atau belum. Pun dia sempat bilang tentang makanan-makanan apa saja yang disukainya kepada mas Bagus #kodegariskeras.

Thursday, November 28, 2013

Rumah Singgah


Bismillahirrahmannirrahiim


“ Kenapa sih Manda harus les di tempat yang Manda takuti setiap ingin melangkahkan kaki kesana ? Kenapa setiap mau les, Manda selalu minta doakan mama ? Seberapa menakutkan kah ? Tapi kenapa Manda masih tetap ingin kesana ? “ –
Mungkin seperti ini perkataan mama jika di translate ke bahasa Indonesia.

…………………………………………..

Hari ini saya merasa sukses, karena berhasil menguasai suatu materi di les walaupun gak ada mbak Indry maupun Dimas yang selalu duduk di dekat saya. Curang, mereka berdua tiba-tiba serempak untuk tidak masuk les. Walaupun sebenarnya dengan si Dimas belum bisa dibilang akrab juga sih. Hanya karena dia yang selalu menjadi partner tempat duduk disebelah kanan saya, otomatis ia selalu menjadi tempat pembuangan pertanyaan saya ketika mbak Indry juga tidak mengerti dengan materi. Sebenarnya juga ada Riska, tapi Riska selalu duduk ditempat yang jauh sehingga sulit untuk bertanya kepadanya.

Biasanya, ketika mba Indry gak masuk les, saya juga memutuskan untuk gak masuk les. Pernah saya memiliki pengalaman gak menyenangkan sebelumnya  ketika mba Indry dan Riska sama-sama gak masuk les, dan saya pun sendirian di malam itu. Lalu Herr Uki meminta setiap anak berpasangan untuk membuat sebuah drama dalam bahasa Jerman, maka mati lah saya, karena saya takut jika harus berpasangan dengan laki-laki.

“ Ya, manda dengan wawan ya “ – ucap Herr Uki sambil menunjuk pria yang duduk disebelah saya.

Saya melihat ke arah Wawan. Kelihatannya sih baik, dan ternyata……………… memang baik. Hanya saja ia menyebalkan, sangat. Kebanyakan teman-teman disana berbicara dengan sangat ramah kepada saya, tapi dia berbeda, dia berbicara dengan nada yang benar-benar…………. nyolot. Akhirnya ketika kami tampil membawakan drama, kami malah saling nyolot satu sama lain dan  jadi bahan tertawaan di depan kelas.  Tapi, kenapa saya mengatakan dia baik ? Karena dia mau menurunkan grade dia ( yang wuuuh udah tinggi banget ) untuk saya yang masih belum lancar dalam bahasa Jerman, sehingga dialog-dialog yang kami buat hanyalah kalimat-kalimat sederhana saja. Si Wawan itu hanya gaya bicaranya saja yang nyebelin, tapi setiap perkataan nya tidak pernah bermaksud menyakiti hati orang lain. Dia hanya suka bercanda, tapi dengan nada bicara sok cool dan nyolot. Gara-gara pengalaman itu lah, saya benar-benar merasa takut jika harus masuk les tanpa mba Indry. Karena jika ada mba Indry, kami selalu dipasangkan berdua. Bukan sama si orang nyolot tadi. Ya Allah, maafkan aim Ya Allah.

Tuesday, November 26, 2013

Bahagia itu Sederhana



- Bismillahhirrahmannirrahiim -

..
..

Tidak terasa sudah hampir setahun sejak kejadian ini. Kejadian dimana kami pergi bersama-sama ke alkid dan kemudian besok paginya segera menyiapkan surprise untuk ulangtahun Uni dan ka Vikri.

Alkid ? Tempat umum yang paling umum di Jogja.
Kenapa harus Alkid ?

Sedikit konyol, hal ini dimulai ketika saya sangat ingin pergi ke Alkid karena belum pernah kesana bersama teman-teman. Ketika mereka mendengar ini, mereka hanya tertawa. Menertawakan keinginan saya yang mungkin bagi mereka terasa seperti keinginan seorang anak kecil. Terlalu banyak tempat bagus di Jogja, dan kenapa harus memilih Alkid yang sebenarnya biasa  saja ? 

" Seriusan Manda belum pernah kesana ? Manda udah berapa tahun emang di Jogja ? " - sampai mas Arif bisa bertanya begini.
Bukan, bukannya tidak pernah. Pernah saat itu sekali saat bersama keluarga, tapi kemudian tidak pernah kembali lagi, apalagi bersama teman-teman seperti ini.

Untung saat itu ada mba Fanny sama mba Ulfa yang mau mendengarkan, lalu mengabulkan permintaan kecil ini. 
Dan...

Jeng jeng.

Pergilah kami. 

Personil yang ikut : Saya, mba Ulfa, mba Fany, mba Alfi, temen mba Alfi, Deby, Feby, mas Arif, ka Ojan, Sanjaya, ka Alan, Arum, Yopi, Arni, Adi, Rijal.

Yang paling menyebalkan disana adalah ka Alan, karena kami sempat bermain tutup mata untuk melalui 2 buah pohon. Jadi, di Alkid memang ada mitos bahwa jika seseorang dapat melewati 2 buah pohon dengan jarak berapa meteer  gitu sambil matanya ditutup maka hatinya suci dan bersih. 
Waktu itu kebetulan yang menjaga saya ketika matanya ditutup adalah ka Alan, dan instruksi yang dia berikan cuman kata " lurus , jalan lurus " aja. Padahal saya sudah terbelok dari jalan yang seharusnya, kalau jalan lurus malah akan semakin terbelok lagi. Dan alhasil... saya gagal. Benar-benar instruksi yang sesat dari ka Alan.

Beberapa hal yang sangat saya rindukan adalah hal ini. Kebahagiaan dalam kebersamaan.





Lalu.. besok paginya, seperti biasa kami berkumpul di kost nya mba Ulfa & mba Fanny untuk menyiapkan surprise. Sayangnya mba Fany sudah pulang shubuhnya ke Lombok, jadi gak bisa ikut ngasih surprise ke Uni dan Ka Vikri.

Surprise  seperti apa ? Sebenarnya biasa aja sih, disiram-siram dengan ‘ramuan ajaib’ lalu dikasih kado. Diakhir kami akan berkumpul dan saling melantunkan doa untuk mereka yang sedang berulangtahun.

Kado seperti apa ? Kado yang besar-besar dan banyak, tapi isinya hanya lah barang bekas yang sudah tak terpakai lagi. Ada kulit durian, daun-daun, botol bekas, dan lain lain. Hahaha. Dan mereka harus menyimpannya dan tidak boleh membuka sampai jam 12 malam nanti.

May I get aamiin ?

Bismillahirrahmannirrahiim


Lalu seseorang datang begitu saja, tanpa mengetahui bahwa ada yang masih belum dapat menghilang. Dan aku memutuskan untuk menutup rapat-rapat semua jalan untuk masuk. Karena aku takut ruangan ini tidak cukup besar untuk memuat ia jika masih ada yang lain. Biarkan aku seperti ini, karena inilah jalan yang telah aku pilih sebagai persinggahan, disaat ini. Suatu saat, aku akan kembali melanjutkan perjalananku. Mungkin besok, besoknya, atau entah kapan pun itu.

………………………………………………….

Oke. Paragraf diatas tidak akan ada hubungannya dengan paragraph selanjutnya yang akan anda baca, karena saya ingin menuliskan tentang kehidupan les saya sekarang. Huehe. Maap. Hentikan sejenak tentang kisah kasih asmara yang tak kunjung selesai, dan mari kita bicarakan tentang masalah yang lebih urgent lagi (?) . Kehidupan les saya masih sama seperti biasanya, tetap memusingkan namun menyenangkan. Beberapa hal mengejutkan adalah bahwa saya sudah mulai berani bolos, terhitung bolos yang saya lakukan sudah mencapai 4 hari, tapi tidak berturut-turut. Bayangkan, bagaimana mungkin seorang yang masih belum pandai bisa berani-beraninya mengambil resiko untuk ketinggalan pelajaran di kelas. Tentu usaha yang saya kerahkan pun menjadi 2x lipat untuk mengejar ketinggalan itu. Dan saya, menikmati tantangan ini.

Saya pun telah memutuskan bahwa saya ingin menyapa Jerman selama dua minggu (atau mungkin lebih) di bulan Agustus 2015 nanti, untuk refreshing dan tambahan pengalaman. Bertemu dengan komunitas muslim disana dan membantu segala yang mereka butuhkan, dalam hal jasa tentu saja. Saya ingin berbagi pengalaman, rasa, dan pelajaran bersama mereka. Bukankah akan menyenangkan sekali jika kau dapat bertemu dan saling bantu membantu untuk sesama  muslim yang berada di Negara lain, seperti Jerman misalnya ? Tidak khusus hanya muslim dari Indonesia saya rasa, tapi mereka yang juga berasal dari Negara-negara lain diluar sana, yang saat itu sedang berada di Jerman.

Tuesday, October 29, 2013

Dan Aku,







Dan aku, hanya tidak ingin mengganggu bahagiamu.






Thursday, October 24, 2013

Fighting

Bismillahirrahmannirahiim



Huaaa.. sedih sekali ketika kau mengetahui bahwa dirimu adalah yang terbodoh di dalam kelas.
Jadi cerita nya begini, malam ini adalah pertemuan ke 3 untuk les bahasa Jerman saya di pusman UGM. Pada pertemuan awal, semua terasa wajar dan biasa saja. Saya masih sanggup untuk mengikuti ritme belajar teman-teman sekelas saya yang lain, yang padahal notebene nya kebanyakan dari mereka telah mempunyai dasar bahasa Jerman yang lumayan kuat. Sedangkan saya ? Belum ada sama sekali. Saya pun masih kurang mengerti alasan mengapa mereka memilih level 1 yang seharusnya adalah tempat bagi seorang pemula seperti saya. Melihat hal itu, ritme belajar bahasa Jerman kami pun dipercepat oleh coach nya. Saya yang awalnya hanya melongo sedikit ketika berada di kelas, pada malam ini semakin lebih melongo lagi dari sebelumnya. Hiks. Benar-benar seperti orang….. bego.

Malam ini kami belajar tentang angka dalam bahasa Jerman. Karena itu adalah hal  yang umum, mungkin bagi mereka yang memang telah mengenal bahasa Jerman menganggap bahwa materi tersebut adalah hal yang sangat sepele. Mereka dapat menyebutnnya dengan cepat dan tepat tentang penyusunan dan pengucapannya. Lah saya ? Masih terbelit-belit dengan aturan penulisan dan pengucapannya. Otak saya masih memerlukan loading yang cukup lama untuk memberikan respon balik atas susunan angka-angka tersebut. Respon terlama adalah ketika coach nya menyebut angka ribuan dan kami harus mengucapkannya dalam bahasa Jerman.
Misal :
6   = Sechs
16 = Sechzehn
60 = Sechzig
66 = Sechundsechzig
165 = Einhundertfá¹»ndundsechzig
6.145 = Sechtausendeinhundertfá¹»nfundvierzig (WTH!)
           
Dan apesnya saya, saya mendapat giliran untuk menyebutkan angka ribuan ketika coach nya mendiktekan angka bahasa Indo dan meminta pada masing-masing anak untuk mentranslate nya ke dalam bahasa Jerman. Kami hanya diberi waktu sepersekian detik untuk berpikir. Bahkan sebelumnya untuk menghafal angka 1-12 dan mempelajari cara penyusunan struktur tulisan, beliau hanya menjelaskannya dalam hitungan kurang dari 5 menit. Bagi mereka yang sudah biasa diajarkan dari dulu, ini hanya lah sepele mungkin. Lah bagi saya yang baru pertama kali mendengar, ini adalah hal yang SUPER sekali.

Tuesday, October 22, 2013

Misi ?


Bismillaahirrahmannirrahiim..


Apa yang terjadi jika suatu yang kau inginkan tiba-tiba berubah menjadi suatu yang kau takuti ?

Pernikahan, misalnya.

                Siapa yang tidak ingin menikah ? Semua pasti menginginkannya, hanya saja ada yang menginginkannya sekarang, ada pula yang menginginkannya nanti. Saya, termasuk yang dulunya menginginkan pernikahan pada usia dini. Usia dini yang saya maksud pun adalah 21 tahun. Ya, saya menginginkan telah mempunyai pendamping hidup pada umur sekian. Saya berpikir bahwa saya ingin mendidik anak saya secara total tanpa terpaut umur yang jauh, sehingga kami bisa saling mengerti layaknya seorang sahabat sebaya.

                Tapi.. tiba-tiba perasaan itu berubah, saya menjadi takut. 21 tahun, hanya butuh beberapa bulan lagi untuk mencapainya. Saya takut bukan karena khawatir tidak mampu menemukan ‘nya’. Pun bukan takut karena khawatir akan gagal beradaptasi dengan makhluk yang telah dituliskan Tuhan untuk menemani hidup saya. Karena, saya percaya bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya menurut pandangan-Nya. Sebenarnya saya hanya takut.. takut karena harus meninggalkan mama dan abah di rumah. Takut karena tidak bisa tinggal satu atap lagi dengan mereka, mereka yang sangat saya sayangi. Takut karena khawatir tidak dapat lagi merasakan bagaimana rasanya bangun tengah malam dan menyadari bahwa mama tengah masuk ke kamar hanya untuk mengusap kepala kita. Takut karena khawatir tidak dapat lagi mendengar lantunan ayat suci yang dibacakan mama sehabis sholat malam. Takut karena khawatir tidak dapat lagi dibangunkan tengah malam oleh abah ataupun mama hanya untuk minum obat ketika tengah sakit. Takut karena khawatir tidak dapat lagi merasakan bagaimana terbangun karena kompres yang ditaruh mama dikepala ketika tengah demam. Ataupun takut karena khawatir tidak dapat lagi mendengar panggilan abah yang menyebut nama saya hanya untuk membangunkan karena waktu sholat shubuh telah masuk. Saya menjadi takut untuk kehilangan rasa dari semua itu.

                Pada akhirnya saya mengerti.. Kenapa Allah belum ‘mempersadarkan’ saya akan identitas seorang yang telah Ia titipkan sebagai pembimbing saya dalam hidup ini. Seorang yang Ia titipkan untuk saya jaga dengan sepenuh hati, seorang yang bahagia -dunia akhirat- nya yang akan saya jaga dengan erat seerat genggaman tangan anak kecil pada ibunya. Dan ternyata, jawaban dari semua pertanyaan saya dahulu adalah.. karena memang saya yang masih belum siap untuk melakukan itu. Saya masih belum sanggup untuk meninggalkan kehidupan saya sekarang yang dipenuhi dengan kehangatan keluarga dan sahabat. Dan bahkan.. saya tidak tahu kapan kah saya dapat sanggup dengan semua perubahan yang nantinya kau tawarkan.

                Jika kamu muncul sekarang, tentu saya masih belum mempunyai tenaga untuk berlari ke arahmu. Sependek apapun jarak yang takdir berikan. Ya, saya hanya masih belum bisa. Walaupun, saya benar menginginkan dan telah memimpikannya sedari dahulu, tapi ternyata mimpi dan kenyataan itu sekarang bertabrakan. 

Friday, September 27, 2013

Cantik


Bismillah..




            Saya mendapat puisi ini dari sahabat saya, Risma. Dan ketika saya googling, sumber aslinya dapat dibaca melalui situs ini à Blog Duta

Puisi ini sangat indah. Bayangkan, jika yang menuliskan ini adalah.. jodoh kita. Rasanya.. seperti tidak ingin lagi mengkhianati dia yang masih belum diperlihatkan oleh Allah. Maka, mari kita sama-sama berusaha untuk setia kepada jodoh yang telah ditakdirkan Tuhan. Karena sejatinya, Cinta yang benar adalah cinta yang telah diizinkan oleh Allah. Cinta yang benar halal dan cinta yang benar dipergunakan sebagai wadah untuk mendekat kepada-Nya. Semoga kita semua sama-sama berhasil untuk berada dalam kesetiaan sampai yang halal benar-benar.. diberikan oleh Allah.

Selamat membaca!

Cantik.. izinkan aku menunduk..
Cukup sekilas ku lihat wajah indahmu jelmaan bidadari surga..
Karena jika lebih lama ku nikmati pesonamu, itu akan membuatku menjadi pendosa.
Dan ku salutkan kesempurnaanNYA dalam mencipta,

Cantik.. relakan aku berpaling
Bukan karena aku tak sudi untuk lebih lama mengagumi ke elokan parasmu
Yang berbalut jilbab suci
Karena semuanya akan berbeda jika mata ini menangkap keAnggunanmu
Lalu wajah tentrammu akan hadir dalam pejaman mata lelapku
Mengingatmu dan mulai merasakan fibrasi jantung yang membuatku menjadi pria paling bahagia didunia..

Aku tak ingin mencintaimu hanya karena tubuh dari tanah kotor dan mani jijik itu
Aku tak mau menempatkan ruang hatiku hanya untuk jasad fana milikmu

Kau sangat cantik.. subhanalloh..
Gersangnya sahara membeku oleh tutur katamu
Dinginnya kutub membara karena mengagumimu..

Cantik.. biarlah aku menunduk..
Jika kau anggap ini sikap tak bijak saat berbicara menghadapimu
Maka maafkan aku..
Namun inilah sikap yang seharusnya ditunjukan oleh lelaki diseluruh dunia..
Bukannya tak hormat wahai keindahan..
Mengertilah, bahwa mata ini akan diminta pertanggung jawaban atas apa yg dilihatnya
Bukan… bukan.. kau bukan kesalahan..
Kau melebihi eloknya senja sore.. kau melampaui embun pagi yang menetesi rerumputan
Karena keindahanmu tak terbanding kata dan karena keanggunanmu tak tereja bahasa

Grow.



Tiba-tiba saya menemukan sebuah buku tulis yang baru terisi satu lembar. Sesaat kemudian mulai tersenyum-senyum sendiri saat menelusuri kata demi kata yang tertera. Terkadang ada perasaan geli dengan diri di masa lalu. Haha. Kenangan mengantarkan sebuah proses kedewasaan dalam pola berpikir dan bertindak di masa sekarang. Saya harus benar-benar berterimakasih atas perjuangan-perjuangan saya dahulu yang telah berusaha dengan kerasnya dalam mengantarkan diri menjadi seperti sekarang.

Juli, 2013.

Bahkan saya sudah menulis tentang rengekan patah hati di lembar pertama dalam sebuah buku yang seharusnya saya jadikan ‘diary’.

Motif awal membuat buku diary lagi ?
    Mungkin.. karena dulu itu tumbuh rasa keinginan untuk nyamain kelakuan si Shone di film ‘A Crazy Little Thing Called Love’. Diawal saya menuliskan, “pengen kaya si P'shone yang menuliskan fase-fase perasaannya kepada si Nam lalu di dokumentasikan”. 

?? - part 2



Di suatu malam, saya kembali mengetikkan beberapa kalimat. Tapi beberapa menit setelahnya saya mulai menekan tombol [x] di ujung kanan atas. Ketika ia bertanya apakah saya ingin menyimpan tulisan tersebut atau tidak, saya pun mulai menekan tulisan “No” . Kejadian seperti ini bukan pertama kalinya terjadi. Akhir-akhir ini saya memang terlampau sering mengalami hal seperti ini. Diakhir, saya akan tersenyum kecut ke arah layar, dan ya.. terimakasih karena sudah mencoba menghabiskan waktu saya.
Apakah wajar jika seseorang mulai kehilangan inspirasinya untuk menulis ? Padahal ada begitu banyak hal yang ingin saya tuliskan. Namun ketika mulai menatap layar, pikiran saya mulai mengosong dan semua kata terasa ambigu.

Saya tahu, ada yang salah dalam diri saya sekarang.

Dinner Pusman UGM


Bismillahhirrahmannirrahiim -

Karena, bisa bertemu dan berkumpul dengan mereka yang mempunyai impian sama denganmu sangatlah menyenangkan. Tidak  ada kalimat untuk saling meragukan impian yang tertera, bahkan tercipta kalimat tentang kuat nya rasa percaya akan masing-masing dari kita yang mampu untuk menggapainya. Karena melangkah bersama akan terasa lebih ringan dibanding harus melangkah sendirian. Walau pada akhirnya nanti harus berpisah, namun satu yang akan teringat, bahwa disana masih ada mereka yang sedang mewujudkan mimpi yang sama seperti saya.

..
..

Seminggu yang lalu, 1 Desember 2013, saya mendapatkan pengalaman super menyenangkan bersama teman-teman keluarga di PUSMAN.

Saya merasa benar-benar menjadi diri saya sendiri ketika bersama mereka. Bersama mereka, saya tidak merasakan rasa takut seperti yang biasa saya rasakan jika bersebelahan dengan laki-laki lainnya. Karena mereka sudah benar-benar menjadi seperti keluarga bagi saya. Bahkan saking saya merasakan rasa nyaman ketika berada di dekat mereka, saya rasa perasaan cinta itu tidak akan muncul. Karena ada yang lebih dari cinta, yaitu perasaan sayang seakan kami benar-benar terikat oleh hubungan darah.

Saya tertawa. Tersenyum. Bertingkah kekanak-kanakan. Ngambek. Kadang terlihat egois. Kasar. Lemah. Semua terjadi begitu saja ketika berada di dekat mereka. Tidak ada perasaan lelah karena harus berpura-pura untuk bersikap baik.

Bersama mereka, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga. Karena tak sedikit dari mereka adalah orang-orang yang telah sukses di bidangnya. Seperti mas Bagus yang seorang seniman, yang karya lukisannya dihargai sebesar 30juta, yang telah sering berangkat keluar negri tanpa harus mengeluarkan uang sendiri. Ada yang telah bekerja di perusahaan Jerman dan akan berangkat kesana tahun depan. Mereka semua tak hemat kata dalam membagi pengalaman-pengalaman dan nasihat-nasihat untuk mendorong kami yang belum seperti mereka untuk segera menyusul agar bisa jadi seperti mereka, atau bahkan lebih.

Dan saya kaget ketika mengetahui fakta bahwa Bimo, Bobi, dan Wawan masih mahasiswa angkatan 2013 ?! Lalu si Dimas yang ternyata juga baru angkatan 2012.  Saya dan Riska masih berada di tengah-tengah, yaitu angkatan 2011. Sedangkan Mas Ido, mas Hari dan Mba Erni adalah angkatan 2010. Mas Irvand angkatan 2009. Mas Fachmie yang sepertinya angkatan 2008. Mba Indri angkatan 2007. Mas Edo angkatan 2006.  Dan Mas Bagus yang…. Entah angkatan berapa ya kira-kira (.__.) ?

Karena hal tersebut, saya suka sekali mengatakan kepada Bimo, Bobi, Wawan dan Dimas, “Wah berarti kalian harus manggil aku dengan ‘mba’ dooong”. Dan tanpa bisa saya prediksi ternyata..… Bimo dan Bobi benar-benar melakukannya. JLEB. Tiba-tiba saya merasa menjadi sangat tua ketika dipanggil 'mba' oleh mereka. 

Oke.
Lanjut.

Jadi, sebelum berangkat ke tempat Mas Bagus, selaku yang mentraktir kami makan di rumah beliau, saya dan teman-teman sepakat untuk berkumpul terlebih dahulu di depan PUSMAN jam 5 sore. Tapi karena si Bobi dan Bimo datangnya telat, akhirnya kami baru bisa berangkat setelah maghrib dengan menggunakan mobil mas Edo. Dan saya baru tau kalau mas Edo ternyata alumni UII. Karena sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa UGM, saya sempat mengira bahwa mas Edo termasuk di dalamnya.

Di dalam mobil kami berbicara mengenai banyak hal. Hal paling menggelikan adalah saat Bobi bertanya pada Bimo, “ Bim, lu bawa rantang gak ? “ . Hahaha, si Bobi emang yang paling excited terhadap dinner malam itu, bahkan dia terus mengirim sms ke mas Bagus untuk menanyakan apakah makanan sudah siap atau belum. Pun dia sempat bilang tentang makanan-makanan apa saja yang disukainya kepada mas Bagus #kodegariskeras.

Rumah Singgah


Bismillahirrahmannirrahiim


“ Kenapa sih Manda harus les di tempat yang Manda takuti setiap ingin melangkahkan kaki kesana ? Kenapa setiap mau les, Manda selalu minta doakan mama ? Seberapa menakutkan kah ? Tapi kenapa Manda masih tetap ingin kesana ? “ –
Mungkin seperti ini perkataan mama jika di translate ke bahasa Indonesia.

…………………………………………..

Hari ini saya merasa sukses, karena berhasil menguasai suatu materi di les walaupun gak ada mbak Indry maupun Dimas yang selalu duduk di dekat saya. Curang, mereka berdua tiba-tiba serempak untuk tidak masuk les. Walaupun sebenarnya dengan si Dimas belum bisa dibilang akrab juga sih. Hanya karena dia yang selalu menjadi partner tempat duduk disebelah kanan saya, otomatis ia selalu menjadi tempat pembuangan pertanyaan saya ketika mbak Indry juga tidak mengerti dengan materi. Sebenarnya juga ada Riska, tapi Riska selalu duduk ditempat yang jauh sehingga sulit untuk bertanya kepadanya.

Biasanya, ketika mba Indry gak masuk les, saya juga memutuskan untuk gak masuk les. Pernah saya memiliki pengalaman gak menyenangkan sebelumnya  ketika mba Indry dan Riska sama-sama gak masuk les, dan saya pun sendirian di malam itu. Lalu Herr Uki meminta setiap anak berpasangan untuk membuat sebuah drama dalam bahasa Jerman, maka mati lah saya, karena saya takut jika harus berpasangan dengan laki-laki.

“ Ya, manda dengan wawan ya “ – ucap Herr Uki sambil menunjuk pria yang duduk disebelah saya.

Saya melihat ke arah Wawan. Kelihatannya sih baik, dan ternyata……………… memang baik. Hanya saja ia menyebalkan, sangat. Kebanyakan teman-teman disana berbicara dengan sangat ramah kepada saya, tapi dia berbeda, dia berbicara dengan nada yang benar-benar…………. nyolot. Akhirnya ketika kami tampil membawakan drama, kami malah saling nyolot satu sama lain dan  jadi bahan tertawaan di depan kelas.  Tapi, kenapa saya mengatakan dia baik ? Karena dia mau menurunkan grade dia ( yang wuuuh udah tinggi banget ) untuk saya yang masih belum lancar dalam bahasa Jerman, sehingga dialog-dialog yang kami buat hanyalah kalimat-kalimat sederhana saja. Si Wawan itu hanya gaya bicaranya saja yang nyebelin, tapi setiap perkataan nya tidak pernah bermaksud menyakiti hati orang lain. Dia hanya suka bercanda, tapi dengan nada bicara sok cool dan nyolot. Gara-gara pengalaman itu lah, saya benar-benar merasa takut jika harus masuk les tanpa mba Indry. Karena jika ada mba Indry, kami selalu dipasangkan berdua. Bukan sama si orang nyolot tadi. Ya Allah, maafkan aim Ya Allah.

Bahagia itu Sederhana



- Bismillahhirrahmannirrahiim -

..
..

Tidak terasa sudah hampir setahun sejak kejadian ini. Kejadian dimana kami pergi bersama-sama ke alkid dan kemudian besok paginya segera menyiapkan surprise untuk ulangtahun Uni dan ka Vikri.

Alkid ? Tempat umum yang paling umum di Jogja.
Kenapa harus Alkid ?

Sedikit konyol, hal ini dimulai ketika saya sangat ingin pergi ke Alkid karena belum pernah kesana bersama teman-teman. Ketika mereka mendengar ini, mereka hanya tertawa. Menertawakan keinginan saya yang mungkin bagi mereka terasa seperti keinginan seorang anak kecil. Terlalu banyak tempat bagus di Jogja, dan kenapa harus memilih Alkid yang sebenarnya biasa  saja ? 

" Seriusan Manda belum pernah kesana ? Manda udah berapa tahun emang di Jogja ? " - sampai mas Arif bisa bertanya begini.
Bukan, bukannya tidak pernah. Pernah saat itu sekali saat bersama keluarga, tapi kemudian tidak pernah kembali lagi, apalagi bersama teman-teman seperti ini.

Untung saat itu ada mba Fanny sama mba Ulfa yang mau mendengarkan, lalu mengabulkan permintaan kecil ini. 
Dan...

Jeng jeng.

Pergilah kami. 

Personil yang ikut : Saya, mba Ulfa, mba Fany, mba Alfi, temen mba Alfi, Deby, Feby, mas Arif, ka Ojan, Sanjaya, ka Alan, Arum, Yopi, Arni, Adi, Rijal.

Yang paling menyebalkan disana adalah ka Alan, karena kami sempat bermain tutup mata untuk melalui 2 buah pohon. Jadi, di Alkid memang ada mitos bahwa jika seseorang dapat melewati 2 buah pohon dengan jarak berapa meteer  gitu sambil matanya ditutup maka hatinya suci dan bersih. 
Waktu itu kebetulan yang menjaga saya ketika matanya ditutup adalah ka Alan, dan instruksi yang dia berikan cuman kata " lurus , jalan lurus " aja. Padahal saya sudah terbelok dari jalan yang seharusnya, kalau jalan lurus malah akan semakin terbelok lagi. Dan alhasil... saya gagal. Benar-benar instruksi yang sesat dari ka Alan.

Beberapa hal yang sangat saya rindukan adalah hal ini. Kebahagiaan dalam kebersamaan.





Lalu.. besok paginya, seperti biasa kami berkumpul di kost nya mba Ulfa & mba Fanny untuk menyiapkan surprise. Sayangnya mba Fany sudah pulang shubuhnya ke Lombok, jadi gak bisa ikut ngasih surprise ke Uni dan Ka Vikri.

Surprise  seperti apa ? Sebenarnya biasa aja sih, disiram-siram dengan ‘ramuan ajaib’ lalu dikasih kado. Diakhir kami akan berkumpul dan saling melantunkan doa untuk mereka yang sedang berulangtahun.

Kado seperti apa ? Kado yang besar-besar dan banyak, tapi isinya hanya lah barang bekas yang sudah tak terpakai lagi. Ada kulit durian, daun-daun, botol bekas, dan lain lain. Hahaha. Dan mereka harus menyimpannya dan tidak boleh membuka sampai jam 12 malam nanti.

May I get aamiin ?

Bismillahirrahmannirrahiim


Lalu seseorang datang begitu saja, tanpa mengetahui bahwa ada yang masih belum dapat menghilang. Dan aku memutuskan untuk menutup rapat-rapat semua jalan untuk masuk. Karena aku takut ruangan ini tidak cukup besar untuk memuat ia jika masih ada yang lain. Biarkan aku seperti ini, karena inilah jalan yang telah aku pilih sebagai persinggahan, disaat ini. Suatu saat, aku akan kembali melanjutkan perjalananku. Mungkin besok, besoknya, atau entah kapan pun itu.

………………………………………………….

Oke. Paragraf diatas tidak akan ada hubungannya dengan paragraph selanjutnya yang akan anda baca, karena saya ingin menuliskan tentang kehidupan les saya sekarang. Huehe. Maap. Hentikan sejenak tentang kisah kasih asmara yang tak kunjung selesai, dan mari kita bicarakan tentang masalah yang lebih urgent lagi (?) . Kehidupan les saya masih sama seperti biasanya, tetap memusingkan namun menyenangkan. Beberapa hal mengejutkan adalah bahwa saya sudah mulai berani bolos, terhitung bolos yang saya lakukan sudah mencapai 4 hari, tapi tidak berturut-turut. Bayangkan, bagaimana mungkin seorang yang masih belum pandai bisa berani-beraninya mengambil resiko untuk ketinggalan pelajaran di kelas. Tentu usaha yang saya kerahkan pun menjadi 2x lipat untuk mengejar ketinggalan itu. Dan saya, menikmati tantangan ini.

Saya pun telah memutuskan bahwa saya ingin menyapa Jerman selama dua minggu (atau mungkin lebih) di bulan Agustus 2015 nanti, untuk refreshing dan tambahan pengalaman. Bertemu dengan komunitas muslim disana dan membantu segala yang mereka butuhkan, dalam hal jasa tentu saja. Saya ingin berbagi pengalaman, rasa, dan pelajaran bersama mereka. Bukankah akan menyenangkan sekali jika kau dapat bertemu dan saling bantu membantu untuk sesama  muslim yang berada di Negara lain, seperti Jerman misalnya ? Tidak khusus hanya muslim dari Indonesia saya rasa, tapi mereka yang juga berasal dari Negara-negara lain diluar sana, yang saat itu sedang berada di Jerman.

Dan Aku,







Dan aku, hanya tidak ingin mengganggu bahagiamu.






Fighting

Bismillahirrahmannirahiim



Huaaa.. sedih sekali ketika kau mengetahui bahwa dirimu adalah yang terbodoh di dalam kelas.
Jadi cerita nya begini, malam ini adalah pertemuan ke 3 untuk les bahasa Jerman saya di pusman UGM. Pada pertemuan awal, semua terasa wajar dan biasa saja. Saya masih sanggup untuk mengikuti ritme belajar teman-teman sekelas saya yang lain, yang padahal notebene nya kebanyakan dari mereka telah mempunyai dasar bahasa Jerman yang lumayan kuat. Sedangkan saya ? Belum ada sama sekali. Saya pun masih kurang mengerti alasan mengapa mereka memilih level 1 yang seharusnya adalah tempat bagi seorang pemula seperti saya. Melihat hal itu, ritme belajar bahasa Jerman kami pun dipercepat oleh coach nya. Saya yang awalnya hanya melongo sedikit ketika berada di kelas, pada malam ini semakin lebih melongo lagi dari sebelumnya. Hiks. Benar-benar seperti orang….. bego.

Malam ini kami belajar tentang angka dalam bahasa Jerman. Karena itu adalah hal  yang umum, mungkin bagi mereka yang memang telah mengenal bahasa Jerman menganggap bahwa materi tersebut adalah hal yang sangat sepele. Mereka dapat menyebutnnya dengan cepat dan tepat tentang penyusunan dan pengucapannya. Lah saya ? Masih terbelit-belit dengan aturan penulisan dan pengucapannya. Otak saya masih memerlukan loading yang cukup lama untuk memberikan respon balik atas susunan angka-angka tersebut. Respon terlama adalah ketika coach nya menyebut angka ribuan dan kami harus mengucapkannya dalam bahasa Jerman.
Misal :
6   = Sechs
16 = Sechzehn
60 = Sechzig
66 = Sechundsechzig
165 = Einhundertfá¹»ndundsechzig
6.145 = Sechtausendeinhundertfá¹»nfundvierzig (WTH!)
           
Dan apesnya saya, saya mendapat giliran untuk menyebutkan angka ribuan ketika coach nya mendiktekan angka bahasa Indo dan meminta pada masing-masing anak untuk mentranslate nya ke dalam bahasa Jerman. Kami hanya diberi waktu sepersekian detik untuk berpikir. Bahkan sebelumnya untuk menghafal angka 1-12 dan mempelajari cara penyusunan struktur tulisan, beliau hanya menjelaskannya dalam hitungan kurang dari 5 menit. Bagi mereka yang sudah biasa diajarkan dari dulu, ini hanya lah sepele mungkin. Lah bagi saya yang baru pertama kali mendengar, ini adalah hal yang SUPER sekali.

Misi ?


Bismillaahirrahmannirrahiim..


Apa yang terjadi jika suatu yang kau inginkan tiba-tiba berubah menjadi suatu yang kau takuti ?

Pernikahan, misalnya.

                Siapa yang tidak ingin menikah ? Semua pasti menginginkannya, hanya saja ada yang menginginkannya sekarang, ada pula yang menginginkannya nanti. Saya, termasuk yang dulunya menginginkan pernikahan pada usia dini. Usia dini yang saya maksud pun adalah 21 tahun. Ya, saya menginginkan telah mempunyai pendamping hidup pada umur sekian. Saya berpikir bahwa saya ingin mendidik anak saya secara total tanpa terpaut umur yang jauh, sehingga kami bisa saling mengerti layaknya seorang sahabat sebaya.

                Tapi.. tiba-tiba perasaan itu berubah, saya menjadi takut. 21 tahun, hanya butuh beberapa bulan lagi untuk mencapainya. Saya takut bukan karena khawatir tidak mampu menemukan ‘nya’. Pun bukan takut karena khawatir akan gagal beradaptasi dengan makhluk yang telah dituliskan Tuhan untuk menemani hidup saya. Karena, saya percaya bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya menurut pandangan-Nya. Sebenarnya saya hanya takut.. takut karena harus meninggalkan mama dan abah di rumah. Takut karena tidak bisa tinggal satu atap lagi dengan mereka, mereka yang sangat saya sayangi. Takut karena khawatir tidak dapat lagi merasakan bagaimana rasanya bangun tengah malam dan menyadari bahwa mama tengah masuk ke kamar hanya untuk mengusap kepala kita. Takut karena khawatir tidak dapat lagi mendengar lantunan ayat suci yang dibacakan mama sehabis sholat malam. Takut karena khawatir tidak dapat lagi dibangunkan tengah malam oleh abah ataupun mama hanya untuk minum obat ketika tengah sakit. Takut karena khawatir tidak dapat lagi merasakan bagaimana terbangun karena kompres yang ditaruh mama dikepala ketika tengah demam. Ataupun takut karena khawatir tidak dapat lagi mendengar panggilan abah yang menyebut nama saya hanya untuk membangunkan karena waktu sholat shubuh telah masuk. Saya menjadi takut untuk kehilangan rasa dari semua itu.

                Pada akhirnya saya mengerti.. Kenapa Allah belum ‘mempersadarkan’ saya akan identitas seorang yang telah Ia titipkan sebagai pembimbing saya dalam hidup ini. Seorang yang Ia titipkan untuk saya jaga dengan sepenuh hati, seorang yang bahagia -dunia akhirat- nya yang akan saya jaga dengan erat seerat genggaman tangan anak kecil pada ibunya. Dan ternyata, jawaban dari semua pertanyaan saya dahulu adalah.. karena memang saya yang masih belum siap untuk melakukan itu. Saya masih belum sanggup untuk meninggalkan kehidupan saya sekarang yang dipenuhi dengan kehangatan keluarga dan sahabat. Dan bahkan.. saya tidak tahu kapan kah saya dapat sanggup dengan semua perubahan yang nantinya kau tawarkan.

                Jika kamu muncul sekarang, tentu saya masih belum mempunyai tenaga untuk berlari ke arahmu. Sependek apapun jarak yang takdir berikan. Ya, saya hanya masih belum bisa. Walaupun, saya benar menginginkan dan telah memimpikannya sedari dahulu, tapi ternyata mimpi dan kenyataan itu sekarang bertabrakan. 

Cantik


Bismillah..




            Saya mendapat puisi ini dari sahabat saya, Risma. Dan ketika saya googling, sumber aslinya dapat dibaca melalui situs ini à Blog Duta

Puisi ini sangat indah. Bayangkan, jika yang menuliskan ini adalah.. jodoh kita. Rasanya.. seperti tidak ingin lagi mengkhianati dia yang masih belum diperlihatkan oleh Allah. Maka, mari kita sama-sama berusaha untuk setia kepada jodoh yang telah ditakdirkan Tuhan. Karena sejatinya, Cinta yang benar adalah cinta yang telah diizinkan oleh Allah. Cinta yang benar halal dan cinta yang benar dipergunakan sebagai wadah untuk mendekat kepada-Nya. Semoga kita semua sama-sama berhasil untuk berada dalam kesetiaan sampai yang halal benar-benar.. diberikan oleh Allah.

Selamat membaca!

Cantik.. izinkan aku menunduk..
Cukup sekilas ku lihat wajah indahmu jelmaan bidadari surga..
Karena jika lebih lama ku nikmati pesonamu, itu akan membuatku menjadi pendosa.
Dan ku salutkan kesempurnaanNYA dalam mencipta,

Cantik.. relakan aku berpaling
Bukan karena aku tak sudi untuk lebih lama mengagumi ke elokan parasmu
Yang berbalut jilbab suci
Karena semuanya akan berbeda jika mata ini menangkap keAnggunanmu
Lalu wajah tentrammu akan hadir dalam pejaman mata lelapku
Mengingatmu dan mulai merasakan fibrasi jantung yang membuatku menjadi pria paling bahagia didunia..

Aku tak ingin mencintaimu hanya karena tubuh dari tanah kotor dan mani jijik itu
Aku tak mau menempatkan ruang hatiku hanya untuk jasad fana milikmu

Kau sangat cantik.. subhanalloh..
Gersangnya sahara membeku oleh tutur katamu
Dinginnya kutub membara karena mengagumimu..

Cantik.. biarlah aku menunduk..
Jika kau anggap ini sikap tak bijak saat berbicara menghadapimu
Maka maafkan aku..
Namun inilah sikap yang seharusnya ditunjukan oleh lelaki diseluruh dunia..
Bukannya tak hormat wahai keindahan..
Mengertilah, bahwa mata ini akan diminta pertanggung jawaban atas apa yg dilihatnya
Bukan… bukan.. kau bukan kesalahan..
Kau melebihi eloknya senja sore.. kau melampaui embun pagi yang menetesi rerumputan
Karena keindahanmu tak terbanding kata dan karena keanggunanmu tak tereja bahasa